Ponsel Pintar di Indonesia Cuma untuk SMS dan Media Sosial

Fungsi smartphone seharusnya bisa dimaksimalkan untuk kebutuhan internet. Namun di Indonesia, smartphone masih digunakan untuk pesan singkat (SMS) dan mengakses situs jejaring sosial. Regional Head of ConsumerLab Ericsson Southeast Asia and Oceania, Vishnu Singh menjelaskan kecenderungan pemakaian smartphone di Indonesia dan di negara lain berbeda.

"Penggunaan smartphone di Indonesia masih didominasi untuk SMS dan social media. Sementara pasar lain justru sudah mengarah ke penggunaan aplikasi," kata Singh selepas konferensi pers di ajang International Communication Conference (ICC) di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, Rabu (6/6/2012).

Lebih jauh Singh menuturkan bahwa penggunaan smartphone di Indonesia hanya digunakan untuk media sosial (66 persen), browsing internet (54 persen), pesan instan/instant messaging (37 persen), menonton video (21 persen) dan download aplikasi (19 persen).
Sementara feature phone lebih banyak digunakan untuk media sosial (14 persen), browsing internet (9 persen), pesan instan/instant messaging (5 persen), menonton video (2 persen), dan download aplikasi (4 persen).

"Penggunaan smartphone yang meningkat juga memicu penggunaan fitur pesan, khususnya pengguna BlackBerry," tambahnya.
Khusus di pesan instan, pengguna smartphone cenderung memakai situs jejaring sosial, terutama Twitter. Namun pesan yang lain, terutama email juga turut mendominasi.
Efeknya penggunaan telepon justru menurun. Begitu juga SMS berbasis teks juga sudah mulai menurun, dan beralih ke pesan instan.
Dengan penggunaan social media yang meningkat, maka kecenderungan untuk permintaan jaringan internet yang cepat juga akan meningkat. Oleh karena itu, operator di tanah air juga mewaspadai tren penggunaan data yang meningkat dengan merilis paket data.

"Pemakaian social media yang meningkat ini juga akan menyebabkan penggunaan jumlah smartphone di tanah air bisa meningkat tiga kali lipat dalam setahun mendatang," tambahnya.
Di sisi lain, para operator juga harus belajar dari negara lain khususnya penggunaan dan memaksimalkan frekuensi 3G dan 4G atau Long Term Evolution (LTE). Hal itu untuk mendukung pertumbuhan pengguna data yang terus meningkat.

Strategic Marketing Manager Ericsson Southeast Asia and Oceania, Warren Chaisatien menjelaskan operator di Indonesia bisa belajar tentang pengalaman sukses refarming spektrum LTE dari Australia.
Australia telah menjadi perintis dalam refarming frekuensi 1800 MHz untuk LTE. Kurang dari setahun setelah peluncuran pertama LTE secara komersial, ekosistem 1800 MHz telah tumbuh dengan cepat.
Penggunaan spektrum 1800 MHz lebih dimungkinkan karena biaya investasi murah, perangkat ponsel yang mendukung spektrum tersebut juga banyak serta pembagian spektrum untuk 3G dengan LTE jadi lebih mudah karena tidak memerlukan spektrum baru.

"Ini membuktikan bahwa penggunaan spektrum yang fleksibel dan netral sangat penting untuk pengembangan dan kesuksesan mobile broadband," tambah Chaisatien.
Saat ini, Ericsson memegang 25 persen dari semua paten utama di LTE. Serta memasok jaringan LTE komersial yang melayani 215 juta dari 325 juta pengguna dalam layanan komersial.
Sekadar catatan, Ericsson melakukan survei kepada 6.600 responden di Indonesia sejak akhir 2011 hingga awal 2012.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel